Kamis, 21 Agustus 2014

Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jum'at merupakan hari rayanya umat Islam setiap pekan oleh karena itu hari Jum'at memiliki beberapa keutamaan antara lain:


1. Hari Jum'at adalah sebaik-baik hari

    Sebagaimana sabda Nabi Saw:

خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة


Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada    hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan    darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).
2. Dihari Jum'at Allah mewajibkan kamu muslimin untuk melaksanakan shalat Jum'at
Kewajiban sholat Jum’at merupakan sebesar-besar kewajiban Islam yang paling ditekankan dan seagung-agungnya berhimpunnya kaum muslimin. Barangsiapa meninggalkannya (menunaikan sholat Jum’at) karena meremehkannya, niscaya Alloh tutup hatinya sebagaimana di dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim.
3. Hari Jum'at terdapat waktu yang mustajab untuk berdo'a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
إن في الجمعة ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه
Sesungguhnya di dalam hari Jum’at ini, ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya (hari Jum’at) sedangkan ia dalam keadaan berdiri sholat memohon sesuatu kepada Alloh, melainkan akan Alloh berikan padanya.” (Muttafaq ’alaihi)
Ibnul Qayyim berkata setelah menyebutkan adanya perselisihan tentang penentuan spesifikasi waktu ini, ”Pendapat-pendapat yang paling rajih(kuat) adalah dua pendapat yang keduanya terkandung di dalam sebuah hadits yang tsabit (shahih). Yaitu, Pendapat pertama, bahwasanya (waktuijabah tersebut) mulai dari duduknya imam hingga ditunaikannya sholat, sebagaimana dalam hadits Ibnu ’Umar bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة
”(waktu ijabah tersebut) yaitu diantara duduknya imam sampai ditunaikannya sholat.” (HR Muslim).
Pendapat kedua, yaitu setelah waktu ’Ashar. Dan ini adalah dua pendapat yang paling kuat. (Zaadul Ma’ad I/389-390).
4. Bersedekah di di hari Jum'at lebih baik daripada bersedekah pada hari lainnya.
Ibnul Qayyim berkata, ”Bersedekah pada hari Jum’at dibandingkan hari-hari lainnya dalam sepekan, seperti bersedekah pada bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya.”
Dan di dalam hadits Ka’ab (dikatakan),
والصدقة فيه  أعظم من الصدقة في سائر الأيام
Bersedekah di dalamnya lebih besar (pahalanya) daripada bersedekah pada hari lainnya.” (hadits mauquf shahih namun memiliki hukum marfu’).
5. Allah Azza wa Jalla memuliakan di dalamnya kaum mukminin di dalam surga.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata tentang firman AllahAzza wa Jalla,
 وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ
Dan pada sisi kami ada tambahannya.” (QS Qaf, 35)
Beliau berkata, ”Allah muliakan mereka pada tiap hari Jum’at.”
6. Ia adalah hari ’Ied  (perayaan) yang berulang-ulang setiap pekan.
Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل
Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Alloh jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” (HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298).
7. Ia adalah hari yang menghapuskan dosa antara Jumat ke Jum'at berikutnya
Dari Salman beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
لا يغتسل  رجل يوم الجمعة ويتطهر ما استطاع من طهر ويدهن من دهنه أو يمس من طيب بيته ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين ثم يصلي ما كتب له ثم ينصت إذا تكلم  الإمام إلا غفر له ما  بينه وبين الجمعة الأخرى
Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” (HR Bukhari).
8. Pada tiap langkahn orang yang sholat Jum’at ada pahala puasa dan sholat setahun.
Sebagaimana hadits Aus bin Aus radhiyallahu ’anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ودنا من الإمام فأنصت, كان له بكل خطوة يخطوها صيام سنة وقيامها وذلك على الله يسير
Barangsiapa yang mandi lalu berwudhu pada hari Jum’at, lalu ia bersegera dan bergegas (untuk sholat), kemudian ia mendekat kepada imam dan diam, maka baginya pada setiap langkah kaki yang ia langkahkan (ada pahala) puasa dan sholat setahun, dan yang demikian ini adalah sesuatu yang mudah bagi Alloh.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunnan, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

9.  Jahannam itu dinyalakan apinya setiap hari  kecuali pada hari Jum’at.
Hal ini sebagai (salah satu bentuk) pemuliaan terhadap hari yang agung ini. (Lihat Zaadul Ma’ad I/387).
10. Meninggal pada hari Jum’at atau malamnya merupakan tanda khusnul khotimah.
Orang yang wafat pada hari Jum'at akan aman dari siksa kubur dan dari pertanyaan dua Malaikat. Dari Ibnu ’Amr radhiyallahu ’anhuma beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله تعالى فتنة القبر
Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at, kecuali Alloh Ta’ala lindungi dari fitnah kubur.” (R Ahmad dan Turmudi, dishahihkan oleh al-Albani).

Rabu, 20 Agustus 2014

Berobat Dengan Sedekah

Ali Bin Hasan berkata: "Aku mendengar Ibnu Mubarok ditanya seseorang: "Wahai Abu Abdurrahman, lututku mengeluarkan nanah sejak tujuh tahun yang lalu. aku telah mengobatinya dengan berbagai obat dan berkonsultasi kepada banyak dokter tapi semuanya belum mendatangkan manfaat untukku." Ibnu Mubarok berkata: "carilah tempat yang penduduknya membutuhkan air. Galilah sumur disana. Aku berharap disana ada air yang mengalir dan menyumbat darah dari lututmu." lalu lelaki tadi melaksanakan anjuran tersebut dan alhamdulillah sembuh." (Min 'Ajaibish Shodaqoh, 36-37)

Tidak banyak orang yang tahu khasiat sedekah sebagai obat. Disaat sakit, mereka hanya mengandalkan obat-obatan medis yang diresepkan dokter meskipun untuk itu mereka harus membayar dengan harga yang mahal. Memang tidak ada yang salah dengan ikhtiyar mereka mengupayakan kesembuhan. Namun alangkah lebih baik jika mengindahkan pesan rasulullah Saw. dalam hal pengobatan. beliau Saw. bersabda:
دَاوُوْامَرْضاَكُمْ بِالصَّدَ قَةِ وَحَصِّنُوْاَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَأَعِذّوْا لِلْبَلاءِالدُّعَاءَ
"Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, lindungilah  kalian dengan zakat, dan bersiaplah menghadapi cobaan dengan do'a". (HR. Al-Baihaqi)

Resep Rasululloh ini memang unik. Nalar kita mempertanyakan; Apa hubungan sakit dengan sedekah? Dan logika kitapun menjawab; tidak ada ! Tapi begitulah resep ilahiyah, tidak perlu riset ilmiyah atau ada uji klinis untuk meyakinkannya. yang pasti fakta dilapangan sudah banyak buktikemujarabannya. Kita tidak perlu sangsi, karena resep Nabi ini dibimbing wahyu Allah As-Syafi'i yang maha menyembuhkan. Allah yang menurunkan penyakit tentu lebih tahu obat penawarnya. Sangat mudah bagi Allah untuk menyembuhkan penyakit seberat apapun, cukup dengan huruf kaaf dan miim, maka kehendak Allah akan terwujut. Diantara obat yang dikehendaki-Nya sebagai penawar penyakit adalah sedekah. Maka saat anda atau orang yang anda cintai jatuh sakit yakinlah obatnya ada dibalik sedekah. Minumlah sebanyak-banyaknya! Tidak ada efek samping yang dikhawatirkan karena over dosis. Asalkan memenuhi syarat, niscaya sedekah akan merampungkan kerja obat dokter yang belum beraksi.

Berkata Abdul Aziz Bin Umair, "Sholat akan membawamu separuh perjalanan, shoum akan membawamu kedepan pintu istana, dan sedekah yang akan menghantarkanmu kehadapan raja"(Al-Mustathraf, Al-Ibsyihi, 1/10)

Selasa, 19 Agustus 2014

Pahlawan Yang Zuhud




(Kisah 'Ali bin Abi Thalib)


Seusai ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzulqa'dah tahun keenam Hijriyah, Rasulullah saw dan kaum muslimin merasa lega karena musuh yang paling sengit selama ini memerangi kaum muslimin yaitu Quraisy telah menawarkan perdamaian dan gencatan senjata selama 10 tahun.
Akan tetapi masih ada satu musuh lagi yang selalu menunjukkan permusuhannya dan melancarkan berbagai jurus makarnya untuk menghabisi kaum muslimin atau melemahkan kekuatan Islam. Musuh tersebut adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali melakukan pengkhianatan terhadap Rasulullah saw dan kaum muslimin. Ketika awal mula Rasulullah saw dan kaum muslimin berhijrah ke Madinah beliau telah membuat suatu perjanjian dengan kaum Yahudi yang isinya adalah kesepakatan bersama untuk hidup berdampingan secara damai di kota Madinah dan bersama-sama menjaga keamanan kota tersebut dari setiap serangan yang datang dari luar. Tetapi perjanjian tersebut mereka langgar berulang kali, bahkan salah satu suku dari mereka yaitu Bani Nadzir pernah membuat suatu makar jahat yaitu upaya pembunuhan terhadap Rasulullah saw.
Kekuatan Yahudi kini terpusat di Khaibar, satu kota yang besar, memiliki beberapa benteng yang berlapis-lapis dan kebun-kebun kurma yang subur. Mereka memiliki 8 benteng yang besar di kota tersebut dan mereka sangat yakin sekali bahwa kekuatan mereka tidak akan mungkin dikalahkan oleh tentara manapun karena benteng-benteng tersebut sangat kokoh dan berlapis-lapis. Kota tersebut terletak 60 – 80 mil di utara Madinah.
Keberadaan mereka di Khaibar sangat membahayakan Islam dan kaum muslimin. Telah terbukti sebelumnya bahwa kaum Yahudi Khaibar inilah yang memprovokasi suku Quraisy dan Ghothofan (dua suku besar Arab) untuk berkoalisi menyerang kaum muslimin dalam suatu peperangan yang dikenal dengan perang Ahzab (perang Khandaq). Mereka juga yang telah mendesak suku Quraidhah, suku Yahudi di Madinah yang belum pernah melanggar perjanjiannya terhadap Nabi saw, untuk melanggar perjanjiannya dan ikut bergabung dalam pasukan Ahzab (sekutu) memerangi Rasulullah saw dan kaum muslimin.
Bukti-bukti tersebut cukup kuat bagi Rasulullah saw untuk memberikan hukuman yang setimpal atas kejahatan-kejahatan mereka. Maka pada akhir bulan Muharram tahun ketujuh Hijriyah keluarlah Rasulullah saw bersama 1.400 sahabatnya menuju Khaibar. Sementara Yahudi Khaibar memiliki kekuatan tentara tak kurang dari 10.000 prajurit dan memiliki persenjataan yang lengkap.
Peperangan yang cukup sengit terjadi di sekitar benteng Naa'im, satu dari delapan benteng mereka yang terkenal kokoh. Berkali-kali tentara kaum muslimin mencoba untuk menjebol benteng tersebut tetapi selalu gagal. Kemudian pada suatu malam Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya:

"Sungguh aku akan menyerahkan panji perang ini besok kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberikan kemenangan lewat kedua tangannya, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya." Maka para sahabat sibuk membicarakan tentang siapakah yang akan menerima panji tersebut. Maka ketika di pagi hari para sahabat mendatangi Rasulullah saw masing-masing mengharap bahwa dialah yang akan diserahi panji perang tersebut. Lalu beliau saw bersabda, "Di manakah 'Ali bin Abi Thalib?" Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, dia sedang sakit mata." Beliau bersabda, "Panggillah dia untuk datang kesini." Ia pun didatangkan lalu Rasulullah saw  meludah pada kedua matanya dan mendo'akannya maka sembuhlah sakitnya bahkan seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Kemudian beliau menyerahkan panji perang tersebut kepadanya. Lalu 'Ali bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku perangi mereka hingga menjadi muslim seperti kami?" Beliau bersabda, "Berjalanlah dengan perlahan sampai engkau mendatangi halaman mereka, kemudian serulah mereka untuk masuk Islam dan beritahulah tentang hak-hak Allah yang wajib atas mereka. Demi Allah! Seandainya Allah memberi hidayah kepada satu orang saja dengan sebabmu maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta yang merah-merah." (HR. Bukhari)

Adapun pengaruh dari tiupan ludah Rasulullah saw kepada 'Ali tersebut dilukiskan sendiri olehnya sebagai berikut, "Aku tidak pernah sakit mata dan tidak pernah pusing semenjak Rasulullah saw mengusap wajahku dan meludah pada kedua mataku pada waktu perang Khaibar yaitu saat beliau menyerahkan panji perang kepadaku." (HR. Ahmad dan Abu Ya'la, hadits shahih)

Kemudian kaum muslimin menggempur sekali lagi benteng-benteng Yahudi tersebut dengan semangat yang baru. 'Ali bin Abi Thalib keluar memimpin kaum muslimin menuju benteng tersebut. Sebelum melakukan penyerangan dia menyeru orang-orang yang Yahudi terlebih dahulu untuk masuk Islam akan tetapi mereka menolak seruan tersebut dan mereka menantang kaum muslimin dengan dipimpin oleh Marhab, raja mereka. Marhab menantang perang tanding (duel) seraya berkata:
"Medan Khaibar telah tahu bahwa akulah Marhab!
Penyandang senjata pahlawan yang teruji!
Jika peperangan telah berkecamuk dan menyala!"

Amir bin Al Akwa' ra maju untuk menghadapinya, perang tanding berjalan seru akan tetapi pada akhirnya Amir terbunuh sebagai syahid, maka Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya baginya dua pahala –seraya beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya- sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan mujahid yang sedikit sekali seorang Arab yang berjalan seperti dia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian dengan sombongnya Marhab menantang sekali lagi perang tanding seraya melantunkan bait-bait syair di atas, maka 'Ali bin Abi Thalib maju seraya berkata:
"Akulah yang diberi nama oleh ibuku dengan Haidar (singa)
Bagaikan singa hutan yang seram tampangnya.
……. "

Sekejap saja beliau berhasil memukul kepala Marhab dan menewaskannya saat itu juga. Kemudian kemenangan kaum muslimin dapat diraih dengan kepemimpinan 'Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Ishak meriwayatkan dari Abu Rafiq ra bahwa ia berkata, "Ketika peperangan berkecamuk, 'Ali bin Abi Thalib sempat mengambil salah satu pintu benteng untuk dijadikan tameng (perisai)nya, pintu tersebut senantiasa dipegangnya sambil berperang menghadapi lawan sampai Allah memberikan kemenangan atas kami, setelah itu beliau lemparkan pintu tersebut. Sungguh aku menyaksikan bahwa delapan orang di antara kami berupaya keras untuk membalikkannya tetapi kami tak kuasa (karena beratnya)."

Demikianlah 'Ali bin Abi Thalib seorang pahlawan Islam yang pemberani lagi zuhud terhadap dunia. Dia pernah berkata, "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti adalah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu akan menghalangi seseorang dari mengikuti kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan membuat seorang hamba lupa terhadap akheratnya. Ingatlah sesungguhnya dunia berlalu ke belakang (meninggalkan kita) sementara akherat datang menjemput kita. Masing-masing dari keduanya memiliki putra, maka jadilah kalian putra-putra akherat dan janganlah menjadi putra-putra dunia. Sungguh hari ini adalah saat beramal dan tidak ada hisab, dan kelak yang ada hanyalah hisab dan tidak ada lagi kesempatan beramal."

Alangkah butuhnya Islam terhadap pemuda-pemuda seperti beliau yang tulus mencintai Allah dan Rasul-Nya, lemah lembut terhadap orang yang beriman, tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut cercaan orang-orang yang suka mencerca. Inilah sifat-sifat generasi yang diharapkan oleh Islam. Inilah kriteria generasi yang akan membawa perubahan (lihat Qs. Al Maidah{5} :54).  Imam Malik –rahimahullah- pernah berkata, "Tidak akan menjadi baik kondisi generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang generasi awal umat ini menjadi baik dengannya." Ya, benar! Generasi awal umat Islam tidak melejit menjadi jaya (mulia) kecuali dengan meluruskan aqidah dan tauhidnya, menjadikan Allah, Rasul dan berjihad di jalan-Nya lebih dicintai daripada dunia dan seisinya (lihat Qs. At Taubah{9} :24)
Sumber : 1. Ar Rahiiqul Makhtuum, Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri
              2. Taariikhul Khulafaa', Al Hafidh Jalaaluddin As Suyuthi