Senin, 25 Agustus 2014

Agar Kaya Dunia Akherat

Kurangnya sifat qana'ah dalam diri seorang muslim muncul dari tidak mantapnya iman seseorang. tidak biasanya seseorang ridha terhadap qadar dikala susah dan senang menjadi penyebab utamanya. Karena itulah, do'a beliau Shalallahu alaihi wassallam.
"Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak pernah pudar, kesejukan mata yang tidak pernah terputus, dan aku memohon kepada-Mu keridhoan terhadap qadha" (HR. An-Nasa'i)  

Pondasi yang utama dan pertama untuk menumbuhkan sifat ini adalah keyakina yang benar. Keimanan kepada Allah SWT, mengenal Allah dengan nama dan sifat-sifatnya berikut keagungan dan keindahan yang dikandungnya. Disamping itu juga memilki keimanan yang mantap kepada hari akhir, keyakinan yang benar tentang takdir yang baik maupun yang buruk. Semua itu merupakan landasan utama untuk menumbuhkan sifat dan karakter mental qana'aah.

Keimanan pada hari akhir akan mendorong seseorang mukmin untuk memiliki sikap zuhud terhadap dunia. Pemikiranya selalu tertuju kepada hari akhir dan seluruh rangkaiannya, terutama ketika amal-amal kita dihisab. Dengan bekal ini ia paham bahwa hidup didunia hanyalah sementara. Sebagaimana yang ia pelajari dari Rasulullah Saw. dalam sabdanya;
"Apa perluku dengan dunia? Perumpamaan dengan dunia hanyalah ibarat pengendara yang tidur siang sejenak di bawah naungan sebuah pohon, kemudian berangkat di sore hari dan meninggalkannya."(HR. Ahmad, Tirmidzi)
Hal ini akan menjadikan bersikap menerima apapun yang terjadi dengan senang hati. Rasulullah Saw. memberikan buah keimanan ini dalam hadist beliau;

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ 

شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).


Artinya bahwa sabar dalam kesempitan dengan usaha untuk memiliki sifat qana'ah tidak akan didapat seseorang kecuali dengan pemahamantauhid yang baik. karena qana'ah adalah buah dari iman. Ada beberapa hal yang akan membantu seseorang untuk memiliki sifat qana'ah. Yaitu karakter untuk menerima apa yang telah Allah berikan berupa nikmat sedikit ataupun banyak. Diantara cara untuk mendapatkannya adalah:
Pertama; Memiliki ilmu agama yang memadai
Ilmu agama merupakan faktor utama untuk memeperoleh harta yang tidak terkira ini. Dengan ilmu kita mengetahui hakekat, manfaat dan bahaya jika melakukan qana'ah. Ilmu agama menjelaskan kepada kita hakekat dunia, menyikap rahasia-rahasianya, dan bahaya-bahanya jika terlalu berorientasi kepadanya. Ilmu agama akan mendorong kita untuk mencintai dan mengerahkan seluruh perhatian kita kepada kampung akherat, kehidupan yang kekal abadi.
وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya" (QS. Al-An'am: 32)

Kedua; Pemahaman yang benar tentang qodho dan qodar
Allah SWT. telah membagi-bagi rizki dan keadaan hidup manusia sejak zaman azali sesuai takdir yang telah ditetapkan-Nya. pembagian yang dilakukan merupakan ketetapan berdasarkan kebijaksanaan dan ilmu-Nya. maka kita harus memahami bahwa ambisi, keluh kesah dan perhatian kita terhadap dunia tidak akan menambah rizki kita yang telah ditetapkan.karena tidak mungkin kita mengoreksi ketetapan takdir dan qodar Allah. Pemahaman terhadap takdir ini harus benar dan sesuai dengan ilmu yang syar'i karena dengan pemahaman yang mantap dan benar terhadap makna taqdir maka kita dapat menumbuhkan sifat qana'ah, tenang, rileks, terleps apakah kita kaya ataupun miskin.

Sikap ridho seseorang mukmin dalam menghadapi ketetapan qadha dan qadar Allah, akan memberikan kepadanya mata yang jeli dalam melihat kondisi kehidupan dan hakekat pembagiannya. Yang menetapkan rizki adala Allah. Allah juga ynag menbeda-bedakan tingkatan rizki, melebihkan yang satu terhadap yang lainnya. Perbedaan ini merupakan ujian bagi kita. Ujian bagi orang kaya dengan kelebihannya. Ujian bagi orang miskin dengan kekurangannya. Perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin dalam rizki merupakan bukti perbedaan keduanya didunia maupun disisi Allah Azza wa Jalla.
أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ
Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Az-zukhruf:32)

Ktiga: Perjuangan mental dan bersabar
Sesuai dengan kebijaksanaanya, Allah SWT telah memberi kita nafsu yang senantiasa menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhan. Salah satu bentuk keliaran nafsu adalah permusuhan terhadap sifat qana'ah. selama kita tidak melawan nafsu, karena itu kita telah membuka pintu-pintu ambisi, ketamakan, kerakusan, kekikiran dan keluh kesah.
" Jauhilah sifat syuhh, karena sifat syuhh telah membinasakan orang-orang sebelummu, mendorong mereka untuk menumpahkan darah mereka dan melanggar hal-hal diharamkan  bagi mereka." (HR. Muslim)

Imam Ibnu Rajab al Hambali menjelaskan bahwa syuh adalah ambisi yang besar mendorong pemiliknya mengambil banyak hal yag tdak halal, tidak menunaikan kewajiban terhadapnya Substansi sifat ini adalah senang terhadap apa yang diharamkan Allah serta tidak puas terhadap apa telah dihalalkan oleh Allah, baik terhadap harta, kemaluan, atau lainnya.

Keempat; Berdo'a dan memohon kepada Allah
"Ya Allah aku memohon kepadamu petunjuk, ketakwaan, sikap menjaga martabat, dan kekayaan (HR. Muslim)
Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa'di berkata: "Ini merupakan salah satu do'a yang paling luas cakupan maknanya dan yang paling bermanfaat Do'a ini mengandung permohonan agar dikaruniai kebaikan di dunia dan akherat. 'Afaf (sifat menjaga martabat) dan ghina (kekayaan) mengandung arti menjaga kehormatan dihadapan sesama manusia tidak menggantungkan diri kepada mereka dan merasa kaya dengan Allah, rizki-Nya, sikap menerima dengan senang hati terhadap apa yang adad pada dirinya, serta diperolehnya kecuali yang bisa menenangkan hati. Dengan semua itu sempurnalah kebahagiaan hidup di dunia dan ketenangan batin, dan itulah hayyah thoyyibah (kehidupan yang baik)

Kelima; Melihat dibawah, dalam hal keduniaan
Manusia memiliki wtak dasar yang mendorong untuk mencintai harta dan dunia. Terkadang hal ini menjadikan kita lupa terhadap nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Bagaimanapun keadaannya, setiap kita pasti telah dikaruniai nikmat allah yang tidak mampu kita inventarisisr dan hitung. bukan hanya telah, tetapi semua yang telah dan akan kita alami adalah nikmat dan karunia Allah yang tak terkira. Namun nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada kita secara gratis kepada kita, terkadang terabaikan. Kita merasa kurang dan kurang....kita tidak peduli dan tidak menyadari nilainya....hal ini bisa jadi karena kita selalu melihat orang-orang yang mendapat nikmat lebih baik dari kita. 

Seandainya kita melihat orang-orang yang tidak seberuntung kita, orang-orang yang ada "dibawah" kita....atau satu atau beberapa nikmat dari Allah dicabut(misal nikmat sehat)... baru kita merasakan ni kmat-nikmat itu....barulah kita merasa tenang, karena itu; salah satu faktor yang mendorong tumbuhnya sifat qana'ah adalah melihat oang yang keadaannya dibawah kita.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Lihatlah kepada siapa yang lebih rendah dari kalian, jangan meliahat kepada siapa yang lebih tinggi dari kalian; karenna itu akan menjadikan kalian tidak menyepelekan nikmat Allah." (HR. Bukhari)
Inilah beberapa cara untuk menumbuhkan sifat qanaah dan menerima dengan senang hati rizki dan penghidupan yang telah dibagikan Allah. Semoga Allah senantiasa menghiai diri, keluarga, dan keturunan kita serta kaum muslimin dengan sifat qana'ah.(sumber majalah arsada)

Minggu, 24 Agustus 2014

Hapus Dosa Dengan Istighfar

Hapus Dosa Dengan Istigffar


Kecuali Rasulullah Saw. tak ada manusia yang tak punya dosa. karena manusia tempat salah dan alpa. Dus, harusnya tak ada manusia yang jumawa, merasa bangga dan tinggi rasa. Pun demikian adanya, manusia tak boleh berputus asa meski tak liput dari dosa. Karena Allah adalah Rabb  yang maha pengampun. maka memohon ampunan kepada Allah SWT. menjadi sebuah keharusan, yang tidak boleh tidak harus dikerjakan. 
 لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya aku selalu beristigfar kepada Allah setiap hari sebanyak 100 kali dan aku juga bertaubat kepada-Nya.” (HR. Ahmad)

Ah, sepuluh jari tangan tak akan cukup untuk menutupi muka yang tak punya malu ini. Rasulullah Saw yang ma'shum ternyata senantiasa beristighfar kepada Allah. bahkan lebih dari seratus kali. Sungguh tak pantas jika masih ada manusia yang membusungkan dadanya dan mendongakkan kepala serasa tak punya dosa.

Kita Butuh Istighfar
Sederhanana istigfar memohon ampunan karena dosa yang kita kerjakan. Semua do'a yang mengandungng makna ini atau lafalnya maka do'a itu adalah istighfar. Istigfar yang dikehendaki adalah istighfar yang mampu menguraikan ikatan maksiya terus-menerus dan meneguhkan maknanya di surga, bukan hanya lafal yang diucapkan dengan lisan. Adapun orang yang mengucapkan istighfar (Astaghfirullah) sedangkan hatinya masih terus berkutat dengan kemaksiyatan maka istighfarnya itu masih membutuhkan istighfar lagi. Setidaknya demikian yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurtubi.

Mutlak tak ada yang salah dari penjelasan diatas. Istighfar kita masih butuh istighfar, apalagi di zaman kita sekarang ini yang manusia sudah bisa berkecimpung di dalam kedzoliman, sangat berhasrat melakukan maksiyat dan tak mau berhenti. Sehingga istighfar harus kita lazimi terus dan terus. 

Bukti Luasnya Rahmat Allah
Keterlaluan. Allah telah memberi nikmat-Nya kepada manusia, tapi manusia durhaka dan berbuat dosa. Allah pun masih tetap memberikan ampunan tetapi manusia masih engan meminta  ampunan-Nya. Ah, terlalu.
Allah berfirman:
  وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran: 135)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya , dari Abu Sa'id, dari Nabi Saw. beliau bersabda sesungguhnya "Setan berkata; Demi Keagungan-Mu wahai Rabbku! Aku takkan berhenti berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi ruh mereka masih berada didalam raga mereka; Allah berfirman "Demi Kegagahan-Ku dan Kemulaan-Ku Aku akan selalu mengampuni dosa mereka selagi mereka  memohon ampun kepada-Ku.

Ibnu Katsir menyatakan dalam kitab tafsirnya bahwa An-Nas Bin Malik berkata, "Telah sampai berita kepadaku katika ini turun Iblis menangis."

Bagaimana Beristighfar?
Mudah. Baca saja "astaghfirullah". jika menghendaki, maka bisa juga dibaca "astaghfirullahal 'azhim alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum wa atubu ilaih"  itu juga lebih. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwa seorang yang membaca bacaan tersebut Aallah akan mengampuni meski pernah lari dari medan perang. Dan lari dari peperangan adalah dosa besar. Bisa juga membaca bacan istighfar lain yang pernah dibaca oleh Rasulullah Saw.  "rabighfirlii wa tub 'alayya innaka antat tawwaburrahiim"

Rasulullah juga mengajarkan sayyidul istighfar, seseorang yang membacanya disiang hari yang penuh keyakinan, kemudian meninggal disore hari maka dia adalah ahli surga. Dan jika sesorang meninggal di pagi hari dan  telah membacanya di malam hari , maka dia juga ahli surga.  inilah sayyidul istighfar:
للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau,Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau” (HR. Bukhari)

Kapan membacanya? Setiap saat, setiap waktu, kita sangat dianjurkan untuk sering-sering membaca istighfar, karena memang sesering itu pula kita nampaknya kita dalam berbuat dosa. Adapun waktu ditentukannya adalah selesai shalat wajib, bisa juga di sepertiga malam yang terakhir, tatkala sel;esai menunaikan qiyamul lail. Istighfar menjadi bacaan yang mesti kita lazimi. Jumlahnya? Jika  Rasulullah Saw. yang bersih dari dosa saja beristighfar seratus kali, maka bagaiman dengan kita? Harusnya kita bisa mawas diri.

Iringi Dengan Taubat Dan Amal Shalih
Orang yang beristighfar adalah orang yang tak punya dosa lagi. jika diiringi dengan taubat untuk tidak mengulangi dosanya lagi, dan mengiringi dengan amal shalih. Sehingga dengan rahmat Allah kita akan dimudahkan untuk benar-benar total meninggalkan perbuatan dosa. Sungguh tak pernah akan merugi orang-orang yang senantiasa bertaubat dan istighfar kepada Allah. Dosa terampuni hiduppun akan semakin berarti dan hatipun akan semakin berseri. Jika demikian adanya sungguh tak ada alasan lagi untuk tidak malazimi istighfar. (abilfarisi) 

Jumat, 22 Agustus 2014

Menyusun Organisasi Takmir Masjid


إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّـهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّـهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَـٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9:18, At Taubah)

Organisasi Ta'mir Masjid Yang Dibutuhkan 

Masjid merupakan tempat ibadah kaum muslimin, baik dalam arti khusus maupun luas. Masjid  yang besar, indah dan bersih menjadi dambaan kaum muslimin, namun masih kurang bermakna apabila tidak ada aktivitas syi’ar Islam yang semarak.


Shalat berjama'ah merupakan tolak ukur adanya kemakmuran Masjid, dan sekaligus menjadi indikator kereligiusan umat Islam di sekitarnya. Kegiatan-kegiatan sosial, da'wah, pendidikan juga akan menambah kesemarakan dalam memakmurkan Masjid. Di Masjid kita mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berjama’ah dalam shaff-shaff yang teratur. Kebersamaan dan ukhuwah nampak dengan jelas, serta perasaan saling mengasihi sesama muslim terbentuk dengan baik. Di sini pula ghirah (semangat)  Islam dan kesatuan jama’ah menjadi nyata. 

Di masa Rasulullah Rasulullah Saw, selain digunakan sebagai tempat shalat berjama'ah, Masjid juga memiliki fungsi sosial-budaya. Bagi umat Islam mengaktualkan kembali fungsi Masjid sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan adalah merupakan sikap kembali kepada sunnah Rasul; Masjid menjadi pusat kehidupan umat. Artinya umat Islam menjadikan Masjid sebagai pusat aktivitas jama’ah-imamah serta sosialisasi kebudayaan dan nilai-nilai Islam. Pada gilirannya, insya Allah, membawa umat pada keadaan yang lebih baik dan lebih islami. 

Untuk merealisasikan fungsi dan peran Masjid di seperti dimasa Rasulullah Saw.  diperlukan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengadopsi prinsip-prinsip organisasi dan management modern. Sehingga aktivitas yang diselenggarakan dapat menyahuti kebutuhan umat serta berlangsung secara efektif dan efisien. Kebutuhan akan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional semakin tidak bisa ditawar lagi mengingat kompleksitas kehidupan umat manusia yang semakin canggih akibat proses globalisasi, kemudahan transportasi, kecepatan informasi dan kemajuan teknologi. 

Mrubah Cara Berorganisasi
Organisasi Ta’mir Masjid secara kuantitas sudah banyak, namun sebagian besar kinerjanya masih sangat memprihatinkan. Hal ini terlihat dengan kurang profesionalnya Pengurus maupun minimnya aktivitas yang diselenggarakan. Banyak faktor yang mempengaruhi kurang profesionalnya kebanyakan Pengurus Ta’mir Masjid, di antara yang penting adalah minimnya pengetahuan dan kemampuan berorganisasi. Bahkan, ada   yang belum mengenal apa itu ilmu organisasi dan management. Sehingga menimbulkan budaya organisasi yang kurang sehat dan dinamis. 

Untuk itu, umat Islam perlu menata organisasi Ta’mir Masjid yang sudah ada, terutama sistim organisasi dan managementnya. Merubah budaya organisasi bukan hal yang mudah karena akan menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala itu muncul disebabkan adanya faktor-faktor internal dan eksternal, seperti misalnya: 
1. Budaya lama yang sulit menerima perubahan (status quo).
2. Adanya orang-orang yang merasa kehilangan pengaruh atau tersingkir.
3. Ketidaksiapan umat dalam menerima sistim baru.
4. Sumber daya yang masih kurang mendukung.
5. Kurang  informasi maupun belum adanya lembaga pemberdayaan (konsultan) Masjid yang handal.
6. Belum adanya bukti yang dapat dijadikan contoh.

Adanya kendala bukan berarti kita harus menyerah, tetapi justru dituntut untuk lebih serius dalam membawa perubahan positif. Bila perubahan ini berhasil, insya Allah, kita akan menyaksikan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional di mana-mana. Mereka mampu mengelola aktivitas kemasjidan secara baik dan bisa saling bekerja sama di tingkat lokal maupun nasional.

Manfaatkanlah ilmu Organisasi Dan Managemen


Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada umat manusia berbagai macam ilmu pengetahuan, baik quraniah maupun kauniah. Semua manusia, baik muslim maupun kafir, mendapat hak sama untuk mendapatkan pengetahuan, sebagaimana firman-Nya:

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:3-5, Al ‘Alaq).

Demikian pula, ilmu organisasi dan management adalah merupakan karunia Allah juga, yang diberikan kepada para hamba-Nya yang mau memperhatikan sunnatullah dan ciptaan-Nya di alam raya ini. Tidak ada salahnya bila kita mengadopsi keilmuan tersebut dengan menggunakan filter nilai-nilai Islam. walau kita sadari, bahwa ilmu organisasi dan management tumbuh secara terstruktur di dunia Barat, tetapi kita bisa memanfaatkan ilmu itu untuk kemaslahatan kaum muslimin, selama tidak merusak dan merugikan kaum muslimin. Organisasi Ta’mir Masjid bila ingin maju harus mengadopsi ilmu organisasi dan management modern. Pada dasarnya penerapan organisasi dan management dalam sistim organisasi Ta’mir Masjid adalah untuk mempermudah usaha mencapai tujuan. Dengan menerapkan prinsip-prinsipnya, insya Allah, akan diperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:


1. Semua aktivitas dilakukan secara terencana dan direncanakan berdasarkan pertimbangan rasional       serta dapat dipertanggungjawabkan.

2. Aktivitas diselenggarakan secara terorganisir dengan menghindari terjadinya tumpang tindih.
3. Dalam melaksanakan aktivitas lebih terkoordinasi dengan sistim kepemimpinan dan tanggungjawab       yang jelas.
4. Pelaksanaan aktivitas maupun hasilnya dapat mudah diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan         penyelengaraannya.

Membat Format Baru



Di Indonesia telah berkembang organisasi Ta’mir Masjid, atau dengan nama lainnya seperti: Dewan Kesejahteraan Masjid, Dewan Kepengurusan Masjid, Dewan Kemakmuran Masjid atau Pengurus Masjid; yang menjadikan Masjid sebagai titik pusat perhatiannya. Sementara faktor umat sebagai satu kesatuan jama’ah masih belum tersentuh dengan baik, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pembinaannya. Masjid dan umat kurang menyatu karena sistim jama’ah-imamah yang kurang tergarap. Oleh karena itu diperlukan kajian-kajian atau pemikiran  khususnya oleh pihak-pihak atau lembaga yang berkenan tentang konsep kesatuan Masjid-jama’ah-imamah, agar dapat dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan ketiganya. Namun, konsep tersebut tidak hanya untuk menyahuti pengorganisasian dalam suatu wilayah Masjid saja, tetapi juga membahas mengenai hubungan antar organisasi Ta’mir Masjid, baik di tingkat lokal maupun nasional. Juga, konsep tersebut tidak berhenti pada tataran filosofis-konsepsional saja, tetapi yang lebih penting adalah menjelma dalam konsep-konsep teknis-operasional yang dapat dilaksanakan secara langsung di lapangan.

Jika sistim tersebut tersusun, kemudian diderivasi dalam petunjuk-petunjuk pelaksanaan dan selanjutnya diaplikasikan dengan baik dalam komunitas muslim, insya Allah, kemakmuran Masjid dan jama’ahnya yang selama ini kita dambakan dapat menjadi kenyataan. Pada gilirannya, kebangkitan Islam dan islamisasi kehidupan umat manusia akan mengalami akselerasi; dan pada akhirnya, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat kita rasakan bersama.

Menata Organisasi Ta'mir Masjid


Saat ini perlu dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu menyatukan Masjid, jama’ah dan imamah dalam suatu komunitas muslim. Konsep ini menekankan bukan hanya Masjid sebagai tempat aktivitas ibadah, tetapi juga umat Islam sebagai subyek sekaligus obyek dari aktivitas tersebut. Umat Islam di sekitar suatu Masjid membentuk satu kesatuan jama’ah, dan dibimbing oleh imamah Pengurus Ta’mir Masjid. Karakter yang ingin dikembangkan adalah demokratis, egaliter dan penuh partisipasi dengan dilandasi nilai-nilai Islam. Format organisasi Ta’mir Masjid ini memanfaatkan prinsip-prinsip organisasi dengan lebih serius, seperti adanya tujuan, visi dan misi yang jelas, departementasi dalam bidang-bidang kerja, hirarki kepengurusan yang diikuti adanya hak, wewenang dan tanggungjawab, pendelegasian tugas, pengaturan besarnya span of control, unity of command dan lain sebagainya. 

Prinsip-prinsip management juga diaplikasikan dengan sungguh-sungguh, misalnya planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) maupun yang lebih canggih misalnya Total Quality Management (TQM). Termasuk di dalamnya adalah Siklus Deming (PDCA), Seven QC Tools, Lima-R, Management Mutu ISO, Gugus Kendali Mutu, Hoshin Planning dan lain sebagainya. Pemikiran mendasar yang melatarbelakangi format organisasi Ta’mir Masjid adalah karena semakin beragamnya kebutuhan da’wah islamiyah dan keinginan untuk melibatkan seluruh potensi umat dalam upaya-upaya memakmurkan Masjid serta kebutuhan dalam menyahuti kebangkitan Islam yang telah dicanangkan di abad 15 Hijriyah ini. 

Khatimah

Dalam mendukung kebangkitan Islam, Masjid perlu diposisikan sebagaimana fungsi dan perannya di masa Rasulullah dan para sahabatnya. Sehingga, Masjid dapat menjadi sentra aktivitas umat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menuju dunia Islam yang lebih baik.  Disayangkan, kebanyakan Masjid kita belum dikelola secara baik dengan sistim pengelolaan yang efektif dan efisien menuju pengamalan Islam secara kaffah. Karena itu diperlukan adanya format-format baru organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan antara Masjid, jama’ah dan imamah, sehingga dapat memakmurkan Masjid dan umat Islam di sekitarnya.

Kamis, 21 Agustus 2014

Keutamaan Hari Jum'at

Hari Jum'at merupakan hari rayanya umat Islam setiap pekan oleh karena itu hari Jum'at memiliki beberapa keutamaan antara lain:


1. Hari Jum'at adalah sebaik-baik hari

    Sebagaimana sabda Nabi Saw:

خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة فيه خلق آدم وفيه أدخل الجنة وفيه أخرج منها ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة


Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jum’at, (karena) pada    hari ini Adam diciptakan, hari ini pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan    darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jum’at.” (HR Muslim).
2. Dihari Jum'at Allah mewajibkan kamu muslimin untuk melaksanakan shalat Jum'at
Kewajiban sholat Jum’at merupakan sebesar-besar kewajiban Islam yang paling ditekankan dan seagung-agungnya berhimpunnya kaum muslimin. Barangsiapa meninggalkannya (menunaikan sholat Jum’at) karena meremehkannya, niscaya Alloh tutup hatinya sebagaimana di dalam hadits shahih yang diriwayatkan Muslim.
3. Hari Jum'at terdapat waktu yang mustajab untuk berdo'a
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
إن في الجمعة ساعة لا يوافقها عبد مسلم وهو قائم يصلى يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه
Sesungguhnya di dalam hari Jum’at ini, ada suatu waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya (hari Jum’at) sedangkan ia dalam keadaan berdiri sholat memohon sesuatu kepada Alloh, melainkan akan Alloh berikan padanya.” (Muttafaq ’alaihi)
Ibnul Qayyim berkata setelah menyebutkan adanya perselisihan tentang penentuan spesifikasi waktu ini, ”Pendapat-pendapat yang paling rajih(kuat) adalah dua pendapat yang keduanya terkandung di dalam sebuah hadits yang tsabit (shahih). Yaitu, Pendapat pertama, bahwasanya (waktuijabah tersebut) mulai dari duduknya imam hingga ditunaikannya sholat, sebagaimana dalam hadits Ibnu ’Umar bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
هي ما بين أن يجلس الإمام إلى أن تقضى الصلاة
”(waktu ijabah tersebut) yaitu diantara duduknya imam sampai ditunaikannya sholat.” (HR Muslim).
Pendapat kedua, yaitu setelah waktu ’Ashar. Dan ini adalah dua pendapat yang paling kuat. (Zaadul Ma’ad I/389-390).
4. Bersedekah di di hari Jum'at lebih baik daripada bersedekah pada hari lainnya.
Ibnul Qayyim berkata, ”Bersedekah pada hari Jum’at dibandingkan hari-hari lainnya dalam sepekan, seperti bersedekah pada bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya.”
Dan di dalam hadits Ka’ab (dikatakan),
والصدقة فيه  أعظم من الصدقة في سائر الأيام
Bersedekah di dalamnya lebih besar (pahalanya) daripada bersedekah pada hari lainnya.” (hadits mauquf shahih namun memiliki hukum marfu’).
5. Allah Azza wa Jalla memuliakan di dalamnya kaum mukminin di dalam surga.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu, beliau berkata tentang firman AllahAzza wa Jalla,
 وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ
Dan pada sisi kami ada tambahannya.” (QS Qaf, 35)
Beliau berkata, ”Allah muliakan mereka pada tiap hari Jum’at.”
6. Ia adalah hari ’Ied  (perayaan) yang berulang-ulang setiap pekan.
Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل
Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Alloh jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” (HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298).
7. Ia adalah hari yang menghapuskan dosa antara Jumat ke Jum'at berikutnya
Dari Salman beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
لا يغتسل  رجل يوم الجمعة ويتطهر ما استطاع من طهر ويدهن من دهنه أو يمس من طيب بيته ثم يخرج فلا يفرق بين اثنين ثم يصلي ما كتب له ثم ينصت إذا تكلم  الإمام إلا غفر له ما  بينه وبين الجمعة الأخرى
Tidaklah seorang hamba mandi pada hari Jum’at dan bersuci dengan sebaik-baik bersuci, lalu ia meminyaki rambutnya atau berparfum dengan minyak wangi, kemudian ia keluar (menunaikan sholat Jum’at) dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), kemudian ia melakukan sholat apa yang diwajibkan atasnya dan ia diam ketika Imam berkhutbah, melainkan segala dosanya akan diampuni antara hari Jum’at ini dengan Jum’at lainnya.” (HR Bukhari).
8. Pada tiap langkahn orang yang sholat Jum’at ada pahala puasa dan sholat setahun.
Sebagaimana hadits Aus bin Aus radhiyallahu ’anhu beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
من غسل واغتسل يوم الجمعة وبكر وابتكر ودنا من الإمام فأنصت, كان له بكل خطوة يخطوها صيام سنة وقيامها وذلك على الله يسير
Barangsiapa yang mandi lalu berwudhu pada hari Jum’at, lalu ia bersegera dan bergegas (untuk sholat), kemudian ia mendekat kepada imam dan diam, maka baginya pada setiap langkah kaki yang ia langkahkan (ada pahala) puasa dan sholat setahun, dan yang demikian ini adalah sesuatu yang mudah bagi Alloh.” (HR Ahmad dan Ashhabus Sunnan, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).

9.  Jahannam itu dinyalakan apinya setiap hari  kecuali pada hari Jum’at.
Hal ini sebagai (salah satu bentuk) pemuliaan terhadap hari yang agung ini. (Lihat Zaadul Ma’ad I/387).
10. Meninggal pada hari Jum’at atau malamnya merupakan tanda khusnul khotimah.
Orang yang wafat pada hari Jum'at akan aman dari siksa kubur dan dari pertanyaan dua Malaikat. Dari Ibnu ’Amr radhiyallahu ’anhuma beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda,
ما من مسلم يموت يوم الجمعة أو ليلة الجمعة إلا وقاه الله تعالى فتنة القبر
Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari Jum’at atau pada malam Jum’at, kecuali Alloh Ta’ala lindungi dari fitnah kubur.” (R Ahmad dan Turmudi, dishahihkan oleh al-Albani).

Rabu, 20 Agustus 2014

Berobat Dengan Sedekah

Ali Bin Hasan berkata: "Aku mendengar Ibnu Mubarok ditanya seseorang: "Wahai Abu Abdurrahman, lututku mengeluarkan nanah sejak tujuh tahun yang lalu. aku telah mengobatinya dengan berbagai obat dan berkonsultasi kepada banyak dokter tapi semuanya belum mendatangkan manfaat untukku." Ibnu Mubarok berkata: "carilah tempat yang penduduknya membutuhkan air. Galilah sumur disana. Aku berharap disana ada air yang mengalir dan menyumbat darah dari lututmu." lalu lelaki tadi melaksanakan anjuran tersebut dan alhamdulillah sembuh." (Min 'Ajaibish Shodaqoh, 36-37)

Tidak banyak orang yang tahu khasiat sedekah sebagai obat. Disaat sakit, mereka hanya mengandalkan obat-obatan medis yang diresepkan dokter meskipun untuk itu mereka harus membayar dengan harga yang mahal. Memang tidak ada yang salah dengan ikhtiyar mereka mengupayakan kesembuhan. Namun alangkah lebih baik jika mengindahkan pesan rasulullah Saw. dalam hal pengobatan. beliau Saw. bersabda:
دَاوُوْامَرْضاَكُمْ بِالصَّدَ قَةِ وَحَصِّنُوْاَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَأَعِذّوْا لِلْبَلاءِالدُّعَاءَ
"Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah, lindungilah  kalian dengan zakat, dan bersiaplah menghadapi cobaan dengan do'a". (HR. Al-Baihaqi)

Resep Rasululloh ini memang unik. Nalar kita mempertanyakan; Apa hubungan sakit dengan sedekah? Dan logika kitapun menjawab; tidak ada ! Tapi begitulah resep ilahiyah, tidak perlu riset ilmiyah atau ada uji klinis untuk meyakinkannya. yang pasti fakta dilapangan sudah banyak buktikemujarabannya. Kita tidak perlu sangsi, karena resep Nabi ini dibimbing wahyu Allah As-Syafi'i yang maha menyembuhkan. Allah yang menurunkan penyakit tentu lebih tahu obat penawarnya. Sangat mudah bagi Allah untuk menyembuhkan penyakit seberat apapun, cukup dengan huruf kaaf dan miim, maka kehendak Allah akan terwujut. Diantara obat yang dikehendaki-Nya sebagai penawar penyakit adalah sedekah. Maka saat anda atau orang yang anda cintai jatuh sakit yakinlah obatnya ada dibalik sedekah. Minumlah sebanyak-banyaknya! Tidak ada efek samping yang dikhawatirkan karena over dosis. Asalkan memenuhi syarat, niscaya sedekah akan merampungkan kerja obat dokter yang belum beraksi.

Berkata Abdul Aziz Bin Umair, "Sholat akan membawamu separuh perjalanan, shoum akan membawamu kedepan pintu istana, dan sedekah yang akan menghantarkanmu kehadapan raja"(Al-Mustathraf, Al-Ibsyihi, 1/10)

Selasa, 19 Agustus 2014

Pahlawan Yang Zuhud




(Kisah 'Ali bin Abi Thalib)


Seusai ditandatanganinya perjanjian Hudaibiyyah di bulan Dzulqa'dah tahun keenam Hijriyah, Rasulullah saw dan kaum muslimin merasa lega karena musuh yang paling sengit selama ini memerangi kaum muslimin yaitu Quraisy telah menawarkan perdamaian dan gencatan senjata selama 10 tahun.
Akan tetapi masih ada satu musuh lagi yang selalu menunjukkan permusuhannya dan melancarkan berbagai jurus makarnya untuk menghabisi kaum muslimin atau melemahkan kekuatan Islam. Musuh tersebut adalah kaum Yahudi yang telah berulang kali melakukan pengkhianatan terhadap Rasulullah saw dan kaum muslimin. Ketika awal mula Rasulullah saw dan kaum muslimin berhijrah ke Madinah beliau telah membuat suatu perjanjian dengan kaum Yahudi yang isinya adalah kesepakatan bersama untuk hidup berdampingan secara damai di kota Madinah dan bersama-sama menjaga keamanan kota tersebut dari setiap serangan yang datang dari luar. Tetapi perjanjian tersebut mereka langgar berulang kali, bahkan salah satu suku dari mereka yaitu Bani Nadzir pernah membuat suatu makar jahat yaitu upaya pembunuhan terhadap Rasulullah saw.
Kekuatan Yahudi kini terpusat di Khaibar, satu kota yang besar, memiliki beberapa benteng yang berlapis-lapis dan kebun-kebun kurma yang subur. Mereka memiliki 8 benteng yang besar di kota tersebut dan mereka sangat yakin sekali bahwa kekuatan mereka tidak akan mungkin dikalahkan oleh tentara manapun karena benteng-benteng tersebut sangat kokoh dan berlapis-lapis. Kota tersebut terletak 60 – 80 mil di utara Madinah.
Keberadaan mereka di Khaibar sangat membahayakan Islam dan kaum muslimin. Telah terbukti sebelumnya bahwa kaum Yahudi Khaibar inilah yang memprovokasi suku Quraisy dan Ghothofan (dua suku besar Arab) untuk berkoalisi menyerang kaum muslimin dalam suatu peperangan yang dikenal dengan perang Ahzab (perang Khandaq). Mereka juga yang telah mendesak suku Quraidhah, suku Yahudi di Madinah yang belum pernah melanggar perjanjiannya terhadap Nabi saw, untuk melanggar perjanjiannya dan ikut bergabung dalam pasukan Ahzab (sekutu) memerangi Rasulullah saw dan kaum muslimin.
Bukti-bukti tersebut cukup kuat bagi Rasulullah saw untuk memberikan hukuman yang setimpal atas kejahatan-kejahatan mereka. Maka pada akhir bulan Muharram tahun ketujuh Hijriyah keluarlah Rasulullah saw bersama 1.400 sahabatnya menuju Khaibar. Sementara Yahudi Khaibar memiliki kekuatan tentara tak kurang dari 10.000 prajurit dan memiliki persenjataan yang lengkap.
Peperangan yang cukup sengit terjadi di sekitar benteng Naa'im, satu dari delapan benteng mereka yang terkenal kokoh. Berkali-kali tentara kaum muslimin mencoba untuk menjebol benteng tersebut tetapi selalu gagal. Kemudian pada suatu malam Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya:

"Sungguh aku akan menyerahkan panji perang ini besok kepada seorang laki-laki yang Allah akan memberikan kemenangan lewat kedua tangannya, dia mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya." Maka para sahabat sibuk membicarakan tentang siapakah yang akan menerima panji tersebut. Maka ketika di pagi hari para sahabat mendatangi Rasulullah saw masing-masing mengharap bahwa dialah yang akan diserahi panji perang tersebut. Lalu beliau saw bersabda, "Di manakah 'Ali bin Abi Thalib?" Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, dia sedang sakit mata." Beliau bersabda, "Panggillah dia untuk datang kesini." Ia pun didatangkan lalu Rasulullah saw  meludah pada kedua matanya dan mendo'akannya maka sembuhlah sakitnya bahkan seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya. Kemudian beliau menyerahkan panji perang tersebut kepadanya. Lalu 'Ali bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku perangi mereka hingga menjadi muslim seperti kami?" Beliau bersabda, "Berjalanlah dengan perlahan sampai engkau mendatangi halaman mereka, kemudian serulah mereka untuk masuk Islam dan beritahulah tentang hak-hak Allah yang wajib atas mereka. Demi Allah! Seandainya Allah memberi hidayah kepada satu orang saja dengan sebabmu maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki unta yang merah-merah." (HR. Bukhari)

Adapun pengaruh dari tiupan ludah Rasulullah saw kepada 'Ali tersebut dilukiskan sendiri olehnya sebagai berikut, "Aku tidak pernah sakit mata dan tidak pernah pusing semenjak Rasulullah saw mengusap wajahku dan meludah pada kedua mataku pada waktu perang Khaibar yaitu saat beliau menyerahkan panji perang kepadaku." (HR. Ahmad dan Abu Ya'la, hadits shahih)

Kemudian kaum muslimin menggempur sekali lagi benteng-benteng Yahudi tersebut dengan semangat yang baru. 'Ali bin Abi Thalib keluar memimpin kaum muslimin menuju benteng tersebut. Sebelum melakukan penyerangan dia menyeru orang-orang yang Yahudi terlebih dahulu untuk masuk Islam akan tetapi mereka menolak seruan tersebut dan mereka menantang kaum muslimin dengan dipimpin oleh Marhab, raja mereka. Marhab menantang perang tanding (duel) seraya berkata:
"Medan Khaibar telah tahu bahwa akulah Marhab!
Penyandang senjata pahlawan yang teruji!
Jika peperangan telah berkecamuk dan menyala!"

Amir bin Al Akwa' ra maju untuk menghadapinya, perang tanding berjalan seru akan tetapi pada akhirnya Amir terbunuh sebagai syahid, maka Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya baginya dua pahala –seraya beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya- sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan mujahid yang sedikit sekali seorang Arab yang berjalan seperti dia." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemudian dengan sombongnya Marhab menantang sekali lagi perang tanding seraya melantunkan bait-bait syair di atas, maka 'Ali bin Abi Thalib maju seraya berkata:
"Akulah yang diberi nama oleh ibuku dengan Haidar (singa)
Bagaikan singa hutan yang seram tampangnya.
……. "

Sekejap saja beliau berhasil memukul kepala Marhab dan menewaskannya saat itu juga. Kemudian kemenangan kaum muslimin dapat diraih dengan kepemimpinan 'Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Ishak meriwayatkan dari Abu Rafiq ra bahwa ia berkata, "Ketika peperangan berkecamuk, 'Ali bin Abi Thalib sempat mengambil salah satu pintu benteng untuk dijadikan tameng (perisai)nya, pintu tersebut senantiasa dipegangnya sambil berperang menghadapi lawan sampai Allah memberikan kemenangan atas kami, setelah itu beliau lemparkan pintu tersebut. Sungguh aku menyaksikan bahwa delapan orang di antara kami berupaya keras untuk membalikkannya tetapi kami tak kuasa (karena beratnya)."

Demikianlah 'Ali bin Abi Thalib seorang pahlawan Islam yang pemberani lagi zuhud terhadap dunia. Dia pernah berkata, "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti adalah hawa nafsu dan panjang angan-angan. Hawa nafsu akan menghalangi seseorang dari mengikuti kebenaran, sedangkan panjang angan-angan akan membuat seorang hamba lupa terhadap akheratnya. Ingatlah sesungguhnya dunia berlalu ke belakang (meninggalkan kita) sementara akherat datang menjemput kita. Masing-masing dari keduanya memiliki putra, maka jadilah kalian putra-putra akherat dan janganlah menjadi putra-putra dunia. Sungguh hari ini adalah saat beramal dan tidak ada hisab, dan kelak yang ada hanyalah hisab dan tidak ada lagi kesempatan beramal."

Alangkah butuhnya Islam terhadap pemuda-pemuda seperti beliau yang tulus mencintai Allah dan Rasul-Nya, lemah lembut terhadap orang yang beriman, tegas terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut cercaan orang-orang yang suka mencerca. Inilah sifat-sifat generasi yang diharapkan oleh Islam. Inilah kriteria generasi yang akan membawa perubahan (lihat Qs. Al Maidah{5} :54).  Imam Malik –rahimahullah- pernah berkata, "Tidak akan menjadi baik kondisi generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang generasi awal umat ini menjadi baik dengannya." Ya, benar! Generasi awal umat Islam tidak melejit menjadi jaya (mulia) kecuali dengan meluruskan aqidah dan tauhidnya, menjadikan Allah, Rasul dan berjihad di jalan-Nya lebih dicintai daripada dunia dan seisinya (lihat Qs. At Taubah{9} :24)
Sumber : 1. Ar Rahiiqul Makhtuum, Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri
              2. Taariikhul Khulafaa', Al Hafidh Jalaaluddin As Suyuthi